Pada artikel sebelumnya kita sudah membahas macam-macam higher-order function di JavaScript. Nah pertanyaannya, apakah higher-order function hanya ada pada JavaScript ? Jawabannya, tidak. Higher-order function tersedia built-in di banyak bahasa pemrograman modern yang khususnya memiliki paradigma fungsional, bahkan kita bisa membuatnya sendiri pada bahasa pemrograman apapun. Lalu apakah sebenarnya higher-order function itu? Nah, Higher-order function sendiri termasuk salah satu dari konsep atau teknik yang ada pada paradigma fungsional. Pada artikel ini gua akan membahas apa saja konsep yang biasanya digunakan pada paradigma fungsional. Oke, tidak perlu panjang lebar langsung aja kita mulai.


Setidaknya ada beberapa konsep yang common pada paradigma fungsional. yaitu:
  1. Transformation dan Immutability
  2. Pure Function
  3. Recursion/Recursive Function
  4. Callback dan Closure
  5. Higher-order Function
  6. Currying/Curried Function

1. Transformation dan Immutability

Sebelum masuk ke 5 point yang memang benar-benar khusus fungsional, pertama-tama kita akan bahas dulu apa itu transformation dan immutability, karena inilah dasar dan ciri khas utama dari paradigma fungsional. Kenapa transformation dan immutability gua gabung jadi satu point? Karena konsep transformation ini biasanya didukung dengan konsep data immutability atau kekekalan data, jadi mereka berhubungan satu sama lain hehe.

Data yang kekal artinya data tidak akan bisa berubah nilainya setelah dibuat. Terus, untuk apa membuat setiap data menjadi immutable/kekal? Yap kita menggunakan konsep immutability ini untuk menghindari terjadinya peristiwa side-effect. Pada paradigma OOP semua data biasanya bersifat mutable. Karena paradigma OOP mengizinkan kita untuk melakukan mutasi data melalui sebuah setter pada suatu class. Sebagai contoh, biasanya kita ngelakuin ini di Java:

Product product = new Product("Sepatu");
product.setDiscount("10%");
product.setPrice(90000);

System.out.println(product.getSalePrice()); // 81000

product.setDiscount("50%");

System.out.println(product.getSalePrice()); // 45000

Nah, mungkin kurang lebih seperti itu kalau kita mengetik program di Java yang paradigmanya menggunakan OOP. Disitu dapat kita lihat bahwa kita sudah memutasi nilai diskonnya dari 10% menjadi 50%. “Lah terus, emang kenapa?” Ga ada apa-apa sih, sebenarnya sah-sah aja kalau kita ingin seperti itu, namun disini gua ingin menunjukkan apa itu peristiwa side-effect, coba kita lihat ini:

Product product = new Product("Sepatu");
product.setDiscount("10%");
product.setPrice(90000);

double price1 = product.getSalePrice();
System.out.println(price1); // => 81000

product.setDiscount("50%");

double price2 = product.getSalePrice();
System.out.println(price2); // => 45000
System.out.println(price1); // => 45000

Benar, Kita sudah memutasi property diskon pada objek produk dan menyebabkan variable price1 ikut berubah, karena pada method getSalePrice() tsb mengacu terhadap property diskon pada objek produk. Nah, itulah contoh sederhana dari peristiwa side-effect, variable price1 yang sudah kita deklarasi di awal juga terkena efek sampingnya ketika kita melakukan mutasi diskon pada objek produk tersebut.

Setiap objek dari class memiliki sebuah state dari property-nya, dan memiliki operasi-operasi khusus atau behavior yang dapat dilakukan pada state tersebut melalui method. Program kita berjalan dengan membuat instance dari objek-objek tersebut dan memodifikasi state-nya melalui method yang disediakan, biasanya disebut setter. Ketika proyek kita sudah cukup besar dan objek yang dibuat cukup banyak, akan sulit untuk memahami state apa saja yang ada pada program kita, dan bagaimana perubahannya dari waktu ke waktu, apalagi jika class dari objeknya saling bergantungan dengan class-class yang lain. Hal ini dapat menyebabkan kesalahan dari engineer dan membuat program sulit di maintain.

Dengan begitu, konsep immutability data pada sebuah kode juga bisa dikatakan penting untuk menghindari peristiwa side-effect tsb. Di Java, sebenarnya ada juga konsep immutability, contohnya pada tipe data String seperti ini:

String string1 = "Halo.";
String string2 = string1.toUpperCase();

System.out.println(string2);  // => HALO.
System.out.println(string1);  // => Halo.

string1 = string1 + " Saya Gading";
System.out.println(string1);  // => Halo. Saya Gading

Kita lihat bahwa nilai string1 tidak berubah karena pemanggilan string1.toUpperCase(). Tipe data String pada bahasa Java bersifat immutable, kita tidak dapat mengubah nilainya setelah melakukan assignment. Meskipun demikian, Kita dapat meng-assign ulang variable tipe data String dengan nilai lain. Operasi-operasi seperti concatenation dengan +, .toUpperCase(), dan sebagainya untuk mengembalikan nilai baru dan tidak mengubah nilai awalnya.

Pada baris terakhir, kelihatannya kita mengganti nilai string1, tapi sebenarnya yang kita lakukan adalah mengubah reference yang dimiliki string1 ke sebuah string baru hasil konkatenasi. Lebih jelasnya pada potongan kode berikut:

String string1 = "Halo.";
String string2 = string1;
string1 = string1 + " Saya Rina!";

System.out.println(string1);  // => Halo. Saya Rina!
System.out.println(string2);  // => Halo.

Terlihat bahwa string2 tidak berubah, karena ia masih me-refer objek string yang sama seperti sebelumnya. Tapi hanya sejauh itulah konsep immutability di Java. Pemrograman berorientasi objek dengan Java sangat mendukung pendekatan mutasi data pada sebuah class, melalui setter-nya sehingga sangat besar kemungkinannya untuk menghasilkan peristiwa side-effect seperti yang kita lakukan di awal tadi.


Pada paradigma pemrograman fungsional, state dan behavior merupakan sesuatu yang terpisah. State direpresentasikan oleh sebuah struktur data, dan behavior merupakan fungsi-fungsi yang mampu beroperasi pada data tersebut. Dalam paradigma fungsional, program kita merupakan sebuah urutan transformasi data dari suatu bentuk ke bentuk yang lain.

Terus, bagaimana cara memantapkan konsep transformation dan immutability tersebut pada paradigma fungsional? Nah nanti akan ada hubungannya dengan 4 point yang di bawah, simak sampai abis ya^^

2. Pure function

Setelah membahas konsep transformation dan immutability serta peristiwa side-effect, kita bisa dengan mudah memahami apa itu Pure Function. Secara bahasa, Pure Function dapat kita artikan sebagai fungsi murni. Terus, apa artinya? kenapa bisa dikatakan fungsi murni? Lebih jelasnya, fungsi murni ini adalah fungsi yang beroperasi untuk transformation data serta tidak menimbulkan side-effect ketika memanggilnya. Jika kita ingin menulis sebuah fungsi murni, aturannya adalah: pertama, kita tidak boleh merubah variable diluar scope fungsi tersebut. Kedua, pada fungsi tersebut kita harus me-return nilai atau argumen baru sebagai hasil operasinya, dan yang terakhir, jika menggunakan input parameter yang sama, fungsi yang murni seharusnya konsisten dalam me-return nilainya. Supaya lebih jelas, mari kita lihat contoh fungsi dari potongan kode berikut.

Contoh Impure Function (Fungsi tidak murni)

// IMPURE Function 1
let result = 0
const sum = number => {
  result += number // => mengakses dan mengubah variable diluar scope. (Akan menimbulkan side-effect!)
  return result
}

// Hasil return dengan input yang sama tidak konsisten
console.log(sum(2)) // => 2
console.log(sum(2)) // => 4
console.log(sum(2)) // => 6

// IMPURE Function 2
const save = data => {
  doSomethingElse()
  saveToDatabase(data)
  // => tidak mereturn nilai apapun.
}

const data = { id: 1, name: 'Coca-Cola' }
console.log(save(data)) // => undefined

Contoh Pure Function (Fungsi Murni)

// PURE Function
const getSalePrice = (discount, price) =>
  price - ((parseInt(discount.match(/\d+/)) / 100) * price) // => tidak mengakses maupun mengubah variable diluar scope sehingga tidak akan menimbulkan side-effect

// Hasil return dengan input yang sama konsisten
console.log(getSalePrice('80%', 10000)) // => 2000
console.log(getSalePrice('80%', 10000)) // => 2000
console.log(getSalePrice('50%', 100000)) // => 50000
console.log(getSalePrice('50%', 100000)) // => 50000

3. Recursive

Setelah Pure Function, kita akan membahas Recursive. Recursive sendiri adalah sebuah fungsi yang memanggil dirinya sendiri, baik secara langsung maupun tidak langsung. Rekursif merupakan salah satu teknik penyelesaian masalah yang berguna. Ketika menyelesaikan masalah secara rekursif, umumnya kita memecah-mecah masalah besar menjadi banyak masalah yang lebih kecil, dan menyelesaikan masalah kecil tersebut dengan fungsi rekursif. Lalu apa kelebihan rekursif dari iterasi seperti for-loop, do-while dsb? Yang gua tau, Secara kasat iterasi lebih cepat dari rekursif, akan tetapi rekursif dapat dioptimasi lagi dengan menggunakan metode tail-recursion. Lalu apa itu tail-recursion? Nah kalo itu sih gua ga bahas disini, disini gua lebih fokus membahas perbandingan rekursif dari cara penggunaannya saja. Lagian, kalo masalah teori lebih dalemnya itu diluar kapasitas gua, gua gamau ngejelasin apa yang diluar dari kapasitas gua. Oke langsung aja kita lihat contoh perbandingan penggunaan rekursif dengan iterasi, dengan asumsi gua ingin membuat fungsi range() seperti di Python pada JavaScript.

// Iteration
const rangeWithIteration = (start, end) => {
  const result = []
  for (start; start <= end; start++) {
    result.push(start)
  }
  return result
}

// Recursion
const rangeWithRecursion = (start, end) =>
  start < end
    ? [start, ...rangeWithRecursion(start + 1, end)]
    : [start]

// Penggunaan
console.log(rangeWithIteration(1, 5)) // => [1, 2, 3, 4, 5]
console.log(rangeWithRecursion(1, 5)) // => [1, 2, 3, 4, 5]

Di dalam fungsi reangeWithRecursion ada pemanggilan fungsi rangeWithRecursion itu sendiri, itulah yang disebut rekursif. Fungsi rekursif harus memiliki conditional untuk sebagai batas panggilannya. Karena kalau tidak akan menyebabkan maximum callstack size exceed dimana fungsi tidak berhenti memanggil dirinya sendiri, peristiwanya sama persis seperti infinite looping. Namun disini ada perbedaan antara maximum callstack dan infinite looping dimana jika infinite looping biasanya program akan masih berjalan namun menghasilkan bug yang lama kelamaan program akan freeze/hang sampai crash bahkan OS nya restart sendiri karena memakan memori yang berlebihan. Sedangkan maximum callstack langsung mengirimkan sebuah error tanpa menyebabkan freeze/hang atau bug pada program. Mungkin inilah salah satu keunggulan menggunakan fungsi recursive ketimbang looping.

Kemudian kalau dilihat dari hasil udah jelas sama saja, namun dari segi keringkasan kode jelas menggunakan cara rekursif lebih simple, elegan dan kelihatan banget ciri khas fungsionalnya.

4. Callback dan Closure

Callback sebenarnya adalah fungsi biasa, bedanya dengan fungsi pada umumnya adalah pada cara eksekusinya. Jika fungsi pada umumnya di eksekusi berurutan dari atas ke bawah maka callback di eksekusi pada point tertentu, itu sebabnya di sebut callback.

Nah salah satu ciri khas callback ini adalah fungsi sebagai parameter. Di JavaScript,callback adalah makanan sehari-hari. Kalau kita sering bermain di JavaScript, sangat tidak mungkin jika tidak bertemu callback. Mari kita lihat contoh callback yang biasa ditemukan pada JavaScript.

const btn = document.querySelector('#my-btn')

const onClick = () => {
  window.alert('How dare you touch me !?')
}

btn.addEventListener('click', onClick) // => fungsi onClick sebagai callback

// atau kita bisa langsung menulis callback seperti ini (anonymous callback)
btn.addEventListener('mouseenter', () => {
  window.alert('Get away from me!!')
})

Nah kita sudah melihat contoh callback lalu bagaimana dengan closure? Mari lihat ini:

const input = document.getElementById('my-input')

// Contoh Closure
input.addEventListener('input', event => {
  console.log(event.target.value)
})

Terus, apa bedanya? Ya memang benar pada dasarnya closure itu adalah callback, namun lebih spesifik. Untuk definisi simplenya, yaitu: Closure adalah sebuah callback yang memiliki konteks variabel yang akan digunakan. Disini contohnya bisa dilihat dari variabel event pada callback tersebut.

Walaupun disini gua sebutin perbedaan callback dan closure, namun kebanyakan orang juga tidak membedakannya, karena ya memang sangat minim perbedaannya haha. Jadi sebenarnya terserah kita sih mau menyebut semuanya callback atau closure.

Nah, callback dan closure ini pada umumnya digunakan untuk implementasi event listener, asynchronous process dan lain sebagainya.

5. Higher-order function

Kita sudah membahas tentang Higher-order function di JavaScript pada artikel sebelumnya sebanyak 2 part. Namun yang kita bahas kemarin-kemarin itu hanya dari luarnya saja. Lalu bagaimana isi dalamnya? Mari kita praktekkan lebih lanjut disini, hehe.

Namun gua ulangi lagi pengertiannya, Higher-Order function atau bahasa Indonesianya fungsi tingkat tinggi adalah fungsi yang menerima fungsi callback sebagai argumen ataupun value sebagai output. Nah disini, callback atau closure kita generalisasikan sebagai callback aja ya, biar ga ribet haha. Ya walaupun dipoint 4 kita sudah membedakan antara callback dan closure, yang penting kita sudah tau perbedaannya apa.

Untuk contoh, kalau sebelumnya fungsi Array.map() dan Array.filter() di JavaScript hadir secara terpisah, asumsikan saja kita ingin membuat fungsi map dan filter sekaligus dalam satu fungsi supaya lebih optimal, haha.

const mappedFilter = ([item, ...remaining], cbMap, cbFilter) => (
  typeof item === 'undefined'
    ? []
    : cbFilter(item)
      ? [cbMap(item), ...mappedFilter(remaining, cbMap, cbFilter)]
      : mappedFilter(remaining, cbMap, cbFilter)
)

// PENGGUNAAN

const data = [
  { id: 1, name: 'Product 1', price: 75000 },
  { id: 2, name: 'Product 2', price: 5000 },
  { id: 3, name: 'Product 3', price: 25000 },
  { id: 4, name: 'Product 4', price: 56000 },
  { id: 5, name: 'Product 5', price: 30000 }
]

// mencari nama produk dengan harga diatas 50000
const result = mappedFilter(data,
  product => product.name, // => callback sebagai output
  product => product.price > 50000 // => callback sebagai argumen logika
)

console.log(result) // output => ['Product 1', 'Product 4']

Bisa dilihat kalau fungsi cbFilter yang dipanggil di dalam fungsi mappedFilter tsb berperan sebagai argumen logika, sedangkan cbMap berperan sebagai output value. Nah, kedua fungsi yang menjadi parameter itulah disebut callback, dan fungsi mappedFilter itu sendiri disebut higher-order function. Namun callback sendiri perannya tidak selalu memenuhi persyaratan higher-order function. Karena bisa saja callback hanya dipanggil untuk menyelesaikan proses tanpa me-return sebuah argumen atau value sebagai output. Sedangkan syarat agar sebuah fungsi bisa dikatakan higher-order function adalah jika fungsi tersebut menerima parameter callback yang me-return sebuah argumen maupun value sebagai output.


Tetapi yang perlu diketahui: callback adalah sebuah fungsi yang dipanggil di dalam fungsi lain. Sedangkan higher-order function adalah kebalikannya, sebuah fungsi yang didalamnya memanggil fungsi lain. Namun, kebanyakan orang masih tetap menyebutnya sebagai higher-order function walaupun callback yang dipanggil di dalam fungsi tsb tidak memenuhi persyaratan higher-order function (me-return value).

By the way, kode yang dipraktekkan diatas menggunakan rekursif, jika ingin menggunakan iterasi tidak ada salahnya kok.

6. Currying

Yang terakhir adalah Currying atau bisa juga disebut Curried Function. Secara bahasa, curry artinya bumbu/kari. Jika kita istilahkan secara awam Curried Function adalah fungsi yang sudah ditaburi bumbu/kari.

Namun secara teknis, Currying adalah teknik mengubah fungsi dengan multiple parameter/argumen menjadi pecahan banyak fungsi, tiap fungsi harus mengambil setiap parameter yang ada. Mari kita lihat contoh potongan kode ini.

Fungsi tanpa currying

const getSalePrice = (discount, price) =>
  price - ((parseInt(discount.match(/\d+/)) / 100) * price)

const price = getSalePrice('50%', 100000)
console.log(price) // => 50000

Mungkin seperti itu fungsi yang kita tulis biasanya, nah coba kita pecah parameternya dan membuat fungsi tersebut menjadi currying.

Fungsi dengan currying

const getSalePrice = discount => price =>
  price - ((parseInt(discount.match(/\d+/)) / 100) * price)

const price = getSalePrice('50%')(100000)
console.log(price) // => 50000

Lah dari hasilnya sama aja, terus apa untungnya bikin gituan?

Oke, kita lihat untungnya menggunakan currying. Asumsikan bahwa kita kita memiliki diskon yang sama namun harga produk yang berbeda. Jika tanpa teknik currying mungkin kita akan menulis seperti ini.

const price1 = getSalePrice('50%', 10000)
const price2 = getSalePrice('50%', 750000)
const price3 = getSalePrice('50%', 40000)
// dan seterusnya

// atau seperti ini
const discount = '50%'
const price1 = getSalePrice(discount, 10000)
const price2 = getSalePrice(discount, 750000)
const price3 = getSalePrice(discount, 40000)
// dan seterusnya

Sekilas tidak ada yang salah dengan kode di atas, dan memang tidak ada yang salah. Hanya saja ada banyak pengulangan parameter untuk diskonnya.

Nah dibandingkan dengan kode diatas coba kita gunakan fungsi getSalePrice yang menggunakan currying tadi.

const discount = getSalePrice('50%')

const price1 = discount(10000)
const price2 = discount(750000)
const price3 = discount(40000)

Yap benar. Dengan currying, kita dapat menahan atau meng-hold sebuah parameter yang mungkin akan digunakan berulang kali, hal ini membuat parameter pada fungsi kita menjadi reusable. Implementasi teknik currying ini sering kita jumpai. Contoh umumnya pada framework React, seperti: react hooks, higher-order component, dsb. Selain itu implementasi currying banyak juga ditemukan pada module-module konfigurasi.


Penutup

Kita simpulkan bahwa konsep dan teknik pada paradigma fungsional tidak kalah menarik dengan konsep dan teknik pada paradigma OOP seperti yang kita ketahui pada umumnya. Tidak seperti paradigma OOP yang merupakan kumpulan objek yang dapat berkomunikasi dan bergantungan satu sama lain, pendekatan pada paradigma fungsional merupakan kumpulan fungsi kecil yang beroperasi terhadap data secara independen.

Jadi, dibanding berpikir bahwa program kita adalah kumpulan objek yang datanya dapat berkomunikasi dan bergantungan satu sama lain, lebih baik berpikir bahwa program kita adalah kumpulan fungsi kecil yang beroperasi dengan datanya masing-masing secara independen. Apalagi sekarang sedang trend-nya Microservice. Contoh sederhanya seperti: AWS lambda function, Google Cloud function, Firebase function dan sebagainya. Secara flow, sebenarnya arsitektur microservice itu sama persis dengan alur paradigma fungsional. Karena pada microservice, service-service yang dibangun bersifat independent dan tidak bergantung dengan service yang lain.

Dan sebenarnya sih kita tidak harus selalu memilih dan hanya menggunakan salah satu dari kedua paradigma tersebut. Kita sangat boleh sekali jika ingin menggabungkan paradigma OOP dengan paradigma fungsional dalam proyek kita dengan catatan bahasa pemrograman yang kita gunakan mendukung untuk multiple paradigm. Karena ada beberapa bahasa pemrograman yang tidak mendukung untuk multiple paradigm dan memang dibuat khusus untuk menggunakan salah satu paradigma tertentu saja.


Nah, mungkin itu saja konsep-konsep pada paradigma fungsional yang bisa gua bahas di artikel ini. Jika ada kesalahan dalam penjelasan dan praktek yang gua lakuin diatas boleh di interupsi kok. Sesungguhnya gua juga masih banyak perlu belajar. Sekian dari gua semoga bermanfaat, dan terima kasih. 😄

Share